THAHARAH

BAB I
PENDAHULUAN
 1.1. Latar Belakang
        Shalat merupakan rukun islam yang kedua setelah manusia mengucapkan dua kalimat Syahadat, dari kelima rukun islam tersebut, yang harus dilakukan oleh manusia setiap hari adalah Shalat. Seperti yang dikatakan Rasulullah bahwa Shalat merupakan tiang agama, berarti apabila kita lalai menjalankan sholat satu kali pun, kita bisa meninggalkan ajaran agama kita, dan itu kita berarti melanggar ajaran agama. Melanggar suatu apapun itu merupakan perbuatan dosa, apalagi melanggar ajaran-ajaran agama kita. Sesibuki apapun kita, kita harus melaksanakan sholat, apabila kita meninggalkannya maka sholatnya harus di Qadha’ atau dibayar pada hari yang lainnya. Dan apabila kita melakukan suatu perjalanan yang jauh, maka sholatnya harus di Jama’, dengan sholat jama’ dapat meringankan perjalanan kita karena dilakukan dengan masing-masing dua rakaat.Thaharah merupakan miftah (alat pembuka) pintu untuk memasuki ibadah shalat. Tanpa thaharah pintu tersebut tidak akan terbuka. artinya tanpa thaharah, ibadah shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak sah.

     Dalam Al-Qur’an maupun Hadits banyak sekali penjelasan-penjelasan maupun perintah-perintah, agar umat islam senantiasa bersih dan suci. adapun dalil yang menjelaskan tentang disyariatkannya Thaharah dalam Islam adalah sebagai berikut:
            Pengertian Thaharah”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
1.2. Permasalahan
  • Thaharah
  • Makna Thaharah
  • Pembagian Thaharah
  • Definisi Hadats dan Najis
  • Berwudhu’
  • Fardhu Wudhu’
  • Sunnah Wudhu’
  • Tata Cara Wudhu’
  • Pembatal Wudhu’
  • Mandi Wajib
  • Pengertian Mandi Wajib (Al-Ghuslu)
  • Beberapa Hal yang Mewajibkan untuk Mandi (al ghuslu)
  • Rukun Mandi
  • Tata Cara Mandi yang Sempurna
  • Tayammum
  • Pengertian Tayammum
  • Alat untuk Tayammum
  • Keadaan yang  Membolehkan Tayammum
  • Tata Cara Tayammum
  • Pembatal Tayammum
1.3. Tujuan
  • Mengetahui pengertian Thaharah
  • Mengetahui Definisi Hadats dan Najis
  • Mengetahui pengertian Berwudhu’
  • Mengetahui pengertian Mandi Wajib
  • Mengetahui pengertian Rukun Mandi
  • Mengetahui pengertian Tayammum
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
2.1. Thaharah
     Sesungguhnya Islam adalah agama yang suci dan bersih. Tidak ada satupun agama yang mengatur tentang bersuci sebagaimana agama Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri/ berthaharah.” (Al-Baqarah: 222)
Di dalam kitab-kitab fiqih para ulama menempatkan pembahasan Bab Thaharah dalam bab pertama, sebelum pembahasan yang lainnya. Maka dalam rubrik ini, kami juga akan mengawali pembahasan tentang masalah Thaharah.
2.1.1. Makna Thaharah
          Thaharah menurut arti bahasa adalah pembersihan dari segala kotoran, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Adapun arti Thaharah secara syariat adalah meniadakan atau membersihkan hadats dengan air atau debu yang bisa dipakai untuk menyucikan. Selain itu bermakna juga, usaha untuk menghilangkan najis dan kotoran. Disini bisa diambil pengertian akhir bahwa Thaharah adalah melenyapkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi hambatan bagi pelaksanaan shalat dan ibadah lainnya.
2.1.2. Pembagian Thaharah
             Thaharah terbagi menjadi dua macam yaitu: Thaharah Batin dan Thaharah Lahir. Thaharah batin, yaitu Thaharah dari berbagai macam kemusyrikan dan kemaksiatan. Hal ini bisa dilakukan dengan menguatkan tauhid dan beramal shalih. Thaharah semacam ini lebih penting daripada Thaharah fisik. Sebab tidak mungkin Thaharah fisik ini akan bisa terwujud manakala masih adanya najis kemusyrikan. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk membersihkan hatinya dari najis kemusyrikan dan keragu-raguan. Yaitu dengan cara ikhlas, bertauhid dan berkeyakinan serta bertekad untuk bisa membersihkan diri dan hatinya dari kotoran-kotoran kemaksiatan, pengaruh-pengaruh iri, dengki, suap, tipu daya, sombong, ujub, riya’ dan sum’ah. Semua ini bisa dilakukan dengan cara taubat yang sebenar-benarnya dari semua dosa dan maksiat. Dan thaharah ini merupakan sebagian dari iman. Adapun sebagian yang lainnya adalah thaharah fisik atau lahir. Thaharah fisik, yaitu bersuci dari kotoran-kotoran dan najis-najis, dan thaharah ini adalah separuh keimanan yang kedua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersuci itu separuh dari keimanan.”
Thaharah macam kedua ini dilakukan menurut tata cara yang telah disyariatkan oleh Allah yaitu dengan cara berwudhu’, mandi atau tayamum (ketika sedang tidak ada air), serta membersihkan najis dari pakaian, badan, dan tempat shalat.
Thaharah ini bisa dilakukan dengan dua hal:
Pertama: Thaharah dengan cara menggunakan air, dan inilah cara Thaharah yang paling pokok. Oleh sebab itu, setiap air yang turun dari langit atau keluar dari perut bumi adalah air yang menempati asal penciptaannya. Maka hukum air tersebut adalah suci dan menyucikan dari segala hadats dan kotoran meskipun sudah mengalami perubahan rasa atau warna atau baunya oleh sebab sesuatu yang bersih.
Kedua: Thaharah dengan memakai debu yang suci. Thaharah ini merupakan ganti dari thaharah dengan air oleh sebab tidak memungkinkan bersuci dengan menggunakan air pada bagian-bagian yang harus disucikan atau karena tidak adanya air, atau karena takut bahaya yang ditimbulkan jika menggunakan air sehingga bisa digantikan dengan debu yang suci.
2.2. Definisi Hadats dan Najis
  • Hadats adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak sah melakukan ibadah tertentu seperti shalat; dapat dibedakan menjadi dua:
  1. Hadats Kecil: segala sesuatu yang membatalkan wudhu’, seperti kentut, kencing, buang air besar, dll.
  2. Hadats Besar: sesuatu yang menyebabkan mandi besar, seperti mimpi basah, bersetubuh, haidh, dan nifas.
  • Najis adalah sesuatu yang datang dari dalam diri (tubuh) manusia ataupun dari luar manusia, yang dapat menyebabkan tidak sahnya badan, pakaian, atau tempat untuk dipakai beribadah; dapat dibedakan menjadi tiga:
    1. Najis Mukhaffafah (najis ringan): misalnya air kecing bayi yang belum berumur 2 tahun dan belum makan apa pun selain air susu ibu.
    2. Najis Mutawasithah (najis sedang):
      1. Hukmiyah: benda suci yang terkena benda najis dan masih bisa disucikan (dengan air, dll.).
      2. Ainiyah: benda yang pada asalnya dihukumi najis dan tidak bisa disucikan.
    3. Najis Mughalladhoh (najis berat): misalnya air liur/air kencingnya anjing atau babi, dan atau keturunanya.
Pembahasan dalam makalah ini akan memfokuskan pada jenis thaharah fisik, yang meliputi wudhu’, mandi wajib (al-ghuslu), dan tayammum.
2.3. Berwudhu’
         Secara bahasa wudhu’ berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan. Wudhu’ untuk sholat dikatakan sebagai wudhu’ karena ia membersihkan anggota wudhu’ dan memperindahnya. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari’at, wudhu’ adalah peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menggunakan air yang suci dan mensucikan dengan cara yang tertentu di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki.
Adapun sebab yang mewajibkan wudhu’ adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu’ atau mandi. Hadats terbagi menjadi dua macam: hadats besar, yaitu segala yang mewajibkan mandi; dan hadats kecil, yaitu semua yang mewajibkan wudhu’.
2.3.1. Fardhu Wudhu’
Fardhu (rukun) wudhu’ ada 6 (enam), yaitu :
  1. Membasuh muka (termasuk berkumur dan memasukkan dan mengeluarkan air ke dan dari hidung)
  2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku,
  3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala
  4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki,
  5. Tertib (berurutan),
  6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain).
2.3.2. Sunnah Wudhu’
Yang termasuk sunnah-sunnah wudhu’ adalah :
  1. Bersiwak sebelum berwudhu’
  2. Membasuh dua telapak tangan sebanyak tiga kali
  3. Bersungguh-sungguh dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali bagi yang berpuasa
  4. Mendahulukan anggota wudhu’ yang kanan
  5. Mengulangi setiap basuhan dua kali atau tiga kali
  6. Menyela-nyela antara jari-jemari (tangan dan kaki)
  7. Menyela-nyela jenggot yang lebat.
  8. Menyempurnakan wudhu’
 2.3.3. Tata Cara Wudhu’
  1. Niat berwudhu’ (dalam hati) untuk menghilangkan hadats
  2. Membaca basmallah
  3. Membasuh dua telapak sebanyak tiga kali
  4. Berkumur sebanyak tiga kali, menghirup air ke hidung (Istinsyaq) sebanyak tiga kali, dan menyemprotkan air (istin-tsar) dari hidung ke sebelah kiri
  5. Membasuh muka sebanyak tiga kali.
  6. Membasuh dua tangan beserta siku sebanyak tiga kali.
  7. Menyapu seluruh kepala berikut dua telinga sebanyak satu kali sapuan dengan air yang baru dan bukan air dari sisa basuhan tangan.
  8. Membasuh dua kaki beserta dua mata kaki sebanyak tiga kali.
Setelah selesai berwudhu’ dengan cara-cara tadi, maka arahkanlah pandangan ke langit (atas) dan ucapkanlah doa.
2.3.4. Pembatal Wudhu’
  • Pembatal pertama: Kencing, buang air besar, dan kentut
  • Pembatal kedua: Keluarnya mani, wadi, dan madzi
  • Pembatal ketiga: Tidur lelap (dalam keadaan tidak sadar)
  • Pembatal keempat: Hilangnya akal karena mabuk, pingsan dan gila. Ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama). Hilang kesadaran pada kondisi semacam ini tentu lebih parah dari tidur.
  • Pembatal kelima: Memakan daging unta.
2.4. Mandi Wajib
2.4.1. Pengertian Mandi Wajib (Al-Ghuslu)
            Yang dimaksud dengan al ghuslu secara bahasa adalah mengalirkan air pada sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan al ghuslu secara syari’at adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus untuk menghilangkan hadats besar.
2.4.2. Beberapa Hal yang Mewajibkan untuk Mandi (al ghuslu)
  • Pertama: Keluarnya mani dengan syahwat (junub).
  • Kedua: Bertemunya dua kemaluan (laki-laki dan perempuan), walaupun tidak keluar mani.
  • Ketiga: Ketika berhentinya darah haidh dan nifas.
  • Keempat: Ketika orang kafir masuk Islam.
  • Kelima: Karena kematian.
2.5. Rukun Mandi
  1. Niat mandi (dalam hati) untuk menghilangkan hadats besar.
  2. Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.
Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.
2.5.1. Tata Cara Mandi yang Sempurna
            Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna.
  • Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
  • Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
  • Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.
  • Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
  • Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
  • Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.
  • Ketujuh: Menyela-nyela rambut.
  • Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.
    • Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
2.6. Tayammum
2.6.1. Pengertian Tayammum
          Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud. Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih. Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum, baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak.
2.6.2. Alat untuk Tayammum
         Media (alat) yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih, baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering.
Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits dari Hudzaifah ibnul Yaman, Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ash Shon’ani rohimahullah, Penyebutan sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan. Hal ini merupakan pendapat Al Auzaa’i, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah.
 
2.6.3. Keadaan yang  Membolehkan Tayammum
        Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,
  • Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak.
  • Terdapat air (dalam jumlah terbatas pent.) bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.
  • Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.
  • Ketidakmampuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
  • Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.
 
2.6.4. Tata Cara Tayammum
  • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan, kemudian meniupnya.
  • Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
  • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
  • Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
  • Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja, atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu.
  • Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.
  • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah (junub), demikian juga untuk hadats kecil.
 
2.6.5. Pembatal Tayammum
Pembatal tayammum adalah sebagaimana pembatal wudhu. Demikian juga tayammum tidak dibolehkan lagi apabila dalam kondisi berikut:
  • Telah ditemukan air bagi orang yang bertayammum karena ketidakadaan air,
  • Telah adanya kemampuan menggunakan air,
  • Tidak sakit lagi  bagi orang yang bertayammum karena ketidakmampuan menggunakan air.
Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya yang telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya.
 
BAB III
PENUTUP
 3.1. Kesimpulan
Thaharah menurut arti bahasa adalah pembersihan dari segala kotoran, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Adapun arti Thaharah secara syariat adalah meniadakan atau membersihkan hadats dengan air atau debu yang bisa dipakai untuk menyucikan. Selain itu bermakna juga, usaha untuk menghilangkan najis dan kotoran. Disini bisa diambil pengertian akhir bahwa Thaharah adalah melenyapkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi hambatan bagi pelaksanaan shalat dan ibadah lainnya.
3.2. Saran
Thaharah merupakan miftah (alat pembuka) pintu untuk memasuki ibadah shalat. Tanpa thaharah pintu tersebut tidak akan terbuka. artinya tanpa thaharah, ibadah shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak sah.

KONSTITUSI DAN KONSTITUSIONALISME

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dari catatan sejarah klasik terdapat banyak sekali pengertian tenyang konstitusi, yang sampai sekarang masih sering kita jumpai. Sumber-sumbernya pun juga beragam misalnya dalam perkataan Yunani Kuno Politeia dan perkataan bahasa latin Constitutio yang juga berkaitan dengan kata jus. Dalam dua contoh tersebut  itulah awal mula gagasan konstitusionalisme diekspresikan oleh umat manusia beserta hubungan diantara kedua istilah tersebut dalam sejarah. Jika kedua istilah tersebut dibandingkan, dapat dikatakan bahwa yang paling tua usianya adalah kata politeia yang berasal dari kebudayaan Yunani.
Semua konstitusi selalu menjadikan kekuasaan sebagai pusat perhatian, karena kekuasaan itu sendiri pada intinya memang perlu diatur dan dibatasi sebagaimana mestinya. Jadi, pembatasan kekuasaan pada umumnya dianggap merupakan corak umum materi konstitusi. Berlakunya suatu konstitusi sebagai hokum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu Negara.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana awal mula munculnya Konstitusi dan Konstitusionalisme?
  2. Apa Fungsi konstitusi?

BAB II

KONSTITUSI DAN KONSTITUSIONALISME

 Gagasan Kontitusionalisme Klasik
  1. Politeia dan Constitutio. Sejarah klasik mencatat terdapat dua perkataan yang berkaitan erat dengan pengertian kita sekarang tentang konsitusi, yaitu dalam perkataan Yunani Kuno Politeia dan perkataan latin Constituttio yang berkaitan dengan kata jus. Dalam kedua perkataan tersebut itulah awal mula gagasan konstitusionalisme diekspresikan oleh umat manusia beserta hubungan di antara kedua istilah tersebut dibandingkan, dapat dikatakan bahwa yang paling tua usianya adlah kata politeia yang berasal dari kebudayaan Yunani. Menurut Chrales Howard Mellwain dalam bukunya Constitutionalism: Ancient and Modern  (1947), perkataan constitution di zaman kekaisaran Romawi, dalam bentuk latinnya, mula-mula digunakan sebagai istilah teknis untuk menyebut “the acts of legislation by the emperor”. Di Inggris, peraturan yang pertama kali dikaitkan dengan istilah konstitusi adalah “Contitutions of clarendon 1164” yang disebut oleh Henry II sebagai “constitutions”, menyangkut hubungan antara gereja dan pemerintahan Negara pada masa pemerintahan kakeknya,yaitu Henry I. Isi peraturan yang disebut sebagai konstitusi tersebut masih bersifat eklesiastik, meskipun pemasyarakatannya dilakukan oleh pemerintah sekuler. Secara tradisional, sebelum abad ke-18, konstitusionalisme memang selalu dilihat sebagai seperangkat prinsip-prinsip yang tercermin dalam kelembagaan suatu bangsa dan tidak ada yang mengatasinya dari luar serta tidak ada pula yang mendahuluinya.
  2. Warisan Yunani Kuno (Plato dan Aristoteles). Karya Plato seperti Republic dan Nomoi, terdapat pula dialog-dialog Plato yang diberi judul Politicus atau Statesman yang memuat tema-tema yang berkaitan erat dengan gagasan konstitusionalisme. Jika dalam Republic ia mengidealkan peranan his Philosopher-king yang mempunyai a strength of art which is superior to the law atau bahkan dikatakan sang pemimpin itu sendirilah yang membuat seni kepemimpinannya sebagai hukum, not by laying down rules, but by making his art a law. MenurutAristoteles, klasifikasi konstitusi tergantung pada (i) the ends pursued by states, and (ii) the king of authority exercised by their government. Tujuan tertinggi dari Negara adalah a good life, dan hal ini merupakan kepentingan bersama seluruh warga masyarakat. Karena itu, Aristoteles membedakan antara right constitution dan wrong constitution dengan ukuran kepentingan bersama itu. Jika konstitusi itu diarahkan untuk tujuan mewujudkan kepentingan bersama, maka konstitusi itu disebutnya konstitusi yang benar, tetapi jika sebaliknya adalah konstitusi yang salah.
  3. Warisan Cicero (Romawi Kuno). Cicero mengembangkan karyanya De Re Publica dan De Legibus adalah pemikiran tentang hokum yang berbeda sama sekali dari tradisi yang sudah dikembangkan sebelumnya oleh para filosof Yunani. Cicero menegaskan adanya “one common master and ruler of men, namely God, who is the author of this law, it sinterpreter, and tis sponsor”. Tuhan, bagi Cicero, tak ubahnya bagaikan Tuan dan penguasa semua manusia, serta pengarang atau penulis, penafsis dan sponsor hokum. Oleh karena itu, Cicero sangat mengutamakan peranan hokum dalam pemahamannya tentang persamaan antar umat manusia.
    1. B.       Konstitusionalisme Dan Piagam Madinah
Piagam tertulis pertama dalam sejarah umat manusia yang dapat dibandingkan dengan pengertian konstitusi dalam arti modern adalah Piagam Madinah. Piagam ini dibuat atas persetujuan  bersama antara Nabi Muhammad SAW dengan wakil-wakil penduduk kota Madinah tak lama setelah beliau hijrah dari Mekkah ke Yasrib, nama kota Madinah sebelumnya, pada tahun 622 M. Para ahli menyebut Piagam Madinah ini dengan istilah yang bermacam-macam. Montgomery Watt menyebutnya “the constitution of Medina”; Nicholson menyebutnya “charter”; Majid Khadduri menggunakan perkataan “Treaty”; dan Zainal Abidin Ahmad memakai perkataan Piagam, sebagai terjemahan kata “al-shahifah”. Dalam hubungannya dengan perbedaan keimana dan amalan keagamaan, jelas ditentukan adanya kebebasan beragama. Bagi orang Yahudi agama mereka, dan bagi kaum Mukminin agama mereka pula. Prinsip kebersamaan ini bahkan lebih tegas dari rumusan al-Quran mengenai prinsip “lakum diinukum walya diin” (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku) .
  1. C.      Konstitusi Dan Konstitusionalisme Modern
  2. Konstitusi. Menurut Brian Thompson, secara sederhana pertanyaan: what is a constitution dapat dijawab bahwa “…a constitution is a document which contains the rules for the operation of an organization”. Kebutuhan akan naskah konstitusi tertulis itu merupakan sesuatu yang niscaya, terutama dalam organisasi yang berbentuk badan hokum (legal entity). Sebuah Negara pada umumnya selalu memiliki naskah yang disebut sebagai konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Hanya di Inggris dan Israel saja yang sampai sekarang dikenal tidak memiliki satu naskah tertulis yang disebut Undang-Undang Dasar. Semua konstitusi selalu menjadikan kekuasaan sebagai pusat perhatian, karena kekuasaan itu sendiri pada intinya memang perlu diatur dan dibatasi sebagaimana mestinya. Karena itu, pembatasan kekuasaan pada umumnya dianggap merupakan corak umum materi konstitusi. Berlakunya suatu konstitusi sebagai hokum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu Negara. Jika Negara itu menganut paham kedaulatan rakyat. Jika yang berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu konstitusi.
  3. Konstitusionalisme. Walton H. Hamilton memulai artikel yang ditulisnya dengan judul Constitutionalism yang menjadi salah satu entry dalam encyclopedia of social sciences tahun 1930 dengan kalimat: “constitutionalism is the name given to the trust which men repose in the power of words engrossed on parchment to keep a government in order. Untuk tujuan to keep a government in order itu diperlukan pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan dalam proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan sebagaimana mestinya. Gagasan mengatur dan membatasi kekuasaan ini secara alamiah muncul karena adanya kebutuhan untuk merespons perkembangan peran relative kekuasaan umum dalam kehidupan umat manusia.
Konsensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme di zaman modern pada umumnya dipahami bersandar pada tiga elemen kesepakatan, yaitu:
  1. Kesepakatan tentang tujuan cita-cita bersama
  2. Kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan Negara.
  3. Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur-prosedur ketatanegaraan.
Konstitusionalisme mengatur dua hubungan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: Pertama, hubungan antara pemerintah dengan warga Negara; dan Kedua, hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu dengan yang lain. Karena itu, konstitusi dimaksudkan untuk mengatur mengenai tiga hal penting, yaitu: (a) menentukan pembatasan kekuasaan organ-organ Negara, (b) mengatur hubungan antara lembaga-lembaga Negara yang satu dengan yang lain, dan (c) mengatur hungan kekuasaan antara lembaga-lembaga Negara dengan warga Negara.
Dapat dirumuskan beberapa fungsi konstitusi  yang sangat penting baik secara akademis maupun dalam praktek. Fungsi konstitusi yaitu:
  1. Menentukan pembatasan terhadap kekuasaan sebagi fungsi konstitusionalisme.
  2. Memberi legitimasi terhadap kekuasaan pemerintah.
  3. Sebagai instrument untuk mengalihkan kewenangan dari pemegang kekuasaan asal (baik rakyat dalam system demokrasi atau raja dalam system monarki) kepada organ-organ kekuasaan Negara.
  4. Sebagai kepala Negara simbolik.
  5. Sebagai kitab suci simbolik dari suatu agama civil atau syari’at Negara.
Dalam uraian diatas dapat dikatakan bahwa konstitusi dapat pula difungsikan sebagai sarana kontrol politik, sosial dan/atau ekonomi di masa sekarang, dan sebagai sarana perekayasaan politik, sosial dan/atau ekonomi menuju masa depan.

BAB III

KESIMPULAN

Sebuah Negara pada umumnya selalu memiliki naskah yang disebut sebagai konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Semua konstitusi selalu menjadikan kekuasaan sebagai pusat perhatian, karena kekuasaan itu sendiri pada intinya memang perlu diatur dan dibatasi sebagaimana mestinya. Karena itu, pembatasan kekuasaan pada umumnya dianggap merupakan corak umum materi konstitusi. Berlakunya suatu konstitusi sebagai hokum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu Negara. Jika Negara itu menganut paham kedaulatan rakyat. Jika yang berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu konstitusi.
Konstitusionalisme Untuk tujuan to keep a government in order itu diperlukan pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan dalam proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan sebagaimana mestinya. Gagasan mengatur dan membatasi kekuasaan ini secara alamiah muncul karena adanya kebutuhan untuk merespons perkembangan peran relative kekuasaan umum dalam kehidupan umat manusia. Konsensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme di zaman modern pada umumnya dipahami bersandar pada tiga elemen kesepakatan, yaitu:
  1. Kesepakatan tentang tujuan cita-cita bersama
  2. Kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan Negara.
  3. Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur-prosedur ketatanegaraan.
Konstitusionalisme mengatur dua hubungan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: Pertama, hubungan antara pemerintah dengan warga Negara; dan Kedua, hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu dengan yang lain. Karena itu, konstitusi dimaksudkan untuk mengatur mengenai tiga hal penting, yaitu: (a) menentukan pembatasan kekuasaan organ-organ Negara, (b) mengatur hubungan antara lembaga-lembaga Negara yang satu dengan yang lain, dan (c) mengatur hungan kekuasaan antara lembaga-lembaga Negara dengan warga Negara.
Dapat dirumuskan beberapa fungsi konstitusi  yang sangat penting baik secara akademis maupun dalam praktek. Fungsi konstitusi yaitu:
  1. Menentukan pembatasan terhadap kekuasaan sebagi fungsi konstitusionalisme.
  2. Memberi legitimasi terhadap kekuasaan pemerintah.
  3. Sebagai instrument untuk mengalihkan kewenangan dari pemegang kekuasaan asal (baik rakyat dalam system demokrasi atau raja dalam system monarki) kepada organ-organ kekuasaan Negara.
  4. Sebagai kepala Negara simbolik.
  5. Sebagai kitab suci simbolik dari suatu agama civil atau syari’at Negara.

Implementasi Kebijakan Publik Dalam Pembangunan Pertanian Di Desa Meunasah Dayah

Pada dasarnya Undang-Undang Republik Indonesia No.41 Tahun 2009 dan Instruksi Presiden No.3/1990 sebagai  variabel yang diteliti, merupakan salah satu dari berbagai macam bentuk kebijakan yang ada. Untuk itulah peneliti menggunakan teori-teori implementasi kebijakan publik sebagai  kerangka pikir dalam memahami makna dari variabel tersebut. Dan agar dapat dimaknai dengan benar oleh setiap orang yang menggunakan penelitian ini, maka peneliti berupaya menjabarkannya dengan melakukan pemilahan makna dari setiap variabel yang dimaksud.

Sebagaimana  telah  dipahami  bersama oleh berbagai kalangan, pembangunan pertanian memiliki arti yang sangat strategis, tidak hanya bagi  negara-negara  berkembang,  bagi  negara maju  pun  pertanian  tetap  mendapat  perhatian dan perlindungan yang sangat serius Membahas pertanian adalah membahas tentang ”kelangsungan hidup”, pertanian adalah penyedia  bahan  pangan. Selama manusia di dunia masih memerlukan bahan pangan untuk menjamin kelangsungan hidupnya maka pertanian  tetap  akan  memegang  perang  yang sangat penting. Meskipun  dalam kenyataanya, persepsi  akan  arti  penting  pertanian  kadang-kadang dilupakan oleh banyak orang.

Pembangunan pertanian di Desa Meunasah Dayah diarahkan menuju pembangunan pertanian. Desa Meunasah Dayah sebagai salah satu lahan pertanian yang memadai dan potensial sudah seharusnya menerapkan kebijakan pembangunan pertanian. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti hendak mengkaji dan menjawab permasalahan dalam mendukung implementasi kebijakan public pembangunan pertanian Di Desa Meunasah Dayah.

Desa Meunasah Dayah sebagai salah satu daerah sektor pertanian yang luas dan selama ini sangat banyak potensi sumber daya alamnya tentunya dikenal sebagai daerah yang sangat mengandalkan sektor pertaniannya dalam pembangunan dan dari sektor ini Desa Meunasah Dayah dikenal sebagai daerah pertanian

Kata Kunci : Pembangunan Pertanian,Kebijakan Publik, Bahan Pangan.

 

 

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Pertanian hingga saat ini masih dinilai sebagai sektor penggerak perekonomian Indonesia yang penting dan terbukti memiliki ketahanan yang paling tinggi pada saat terjadi dan pasca periode krisis ekonomi maupun krisis moneter sejak awal 1997. Kemudian ketangguhan sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi suatu negara juga telah dibuktikan oleh negara tetangga seperti Thailand (Said, 1999).

Keberhasilan sektor pertanian sebagai sektor yang handal dan tangguh tentunya tidak terlepas dari peran atau daya dukung seluruh aspek sehingga mendorong kemampuan yang cepat dari sektor ini untuk beradaptasi pada berbagai kondisi. Akan tetapi kalau dikaji lebih mendalam pada tingkat kegiatan usahatani masyarakat, ternyata masih banyak terdapat kekurangan atau adanya masalah di sekitar proses kegiatan pembangunan pertanian. Sebagaimana halnya kegiatan pembangunan pertanian di Desa Meunasah Dayah sampai saat ini dinilai masih belum memiliki basis yang kuat berdasar analisis kemampuan sumberdaya lokal, sehingga dalam penerapannya menghadapi banyak kendala teknis  maupun sosio-kultural (Puslitbangwil Unmul, 2000).

Menurut Suprapto (1999), pengembangan kebijakan pertanian yang ideal memerlukan dukungan hal-hal berikut :

 

(1) Kebijakan makro yang konsisten,

(2) Penguasaan tehnologi;

(3) Dukungan sarana dan prasarana;

(4) Dukungan sumber daya manusia;

(5) Dukungan kelembagaan

 

Desa Meunasah Dayah sebagai salah satu daerah sektor pertanian yang luas dan selama ini sangat banyak potensi sumber daya alamnya tentunya dikenal sebagai daerah yang sangat mengandalkan sektor pertaniannya dalam pembangunan dan dari sektor ini Desa Meunasah Dayah dikenal sebagai daerah pertanian.

Usaha pemerintah untuk mereposisi sektor pertanian menjadi landasan utama pembangunan nasional dengan mengeluarkan  berbagai kebijakan tersebut sudah seharusnya diiringi dengan upaya penerapan secara menyeluruh baik di tingkat pusat maupun hingga ke daerah-daerah. Berbagai kebijakan pemerintah pusat yang diwujudkan dalam bentuk undang-undang seharusnya dapat diimplementasikan secara efektif hingga tingkat daerah. Berdasarkan fakta tersebut dan sejalan dengan semangat otonomi daerah Di Desa Meunasah Dayah yang memiliki potensi lahan pertanian yang memadai dan potensial serta sebagai salah satu kawasan pertanian sudah seharusnya menerapkan Implementasi  kebijakan public  pembangunan pertanian Di Desa Meunasah Dayah.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Untuk melakukan proses penelitian, agar penelitian yang dilakukan tidak keluar dari jalur pembahasan maka peneliti membatasinya dalam hal sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah pelaksanaan  kebijakan  public pembangunan  pertanian Di Desa Meunasah Dayah?
  2. Apakah terdapat harmonisasi peraturan perundang-undangan mengenai pelaksanaan  implementasi kebijakan  public pembangunan  pertanian  Di Desa Meunasah Dayah?

 

  1. C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah hal-hal tertentu yang hendak dicapai dalam suatu  penelitian.  Tujuan penelitian akan memberikan arah dalam pelaksanaan  penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Tujuan Obyektif

  • Untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan public pembangunan  pertanian Di Desa Meunasah Dayah .
  • Untuk mengetahui berbagai upaya  hukum yang dilakukan untuk mendukung pelaksanaan implementasi kebijakan public pembangunan  pertanian berkelanjutan.

 

2. Tujuan Subyektif

  • Untuk menambah  pengetahuan penulis di bidang Hukum  Administrasi Negara  dalam hal implementasi kebijakan public Di Desa Meunasah Dayah.
  • Untuk  melatih kemampuan penulis dalam menerapkan teori ilmu  hukum, mengembangkan dan memperluas wacana pemikiran serta  pengetahuan yang didapat selama perkuliahan guna menganalisis  permasalahan-permasalahan yang muncul dalam hal implementasi kebijakan public Di Desa Meunasah Dayah.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian

Suatu penelitian tentunya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi  berbagai pihak. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:

1. Manfaat Teoritis

  • Penelitian  ini  diharapkan dapat  memberikan bermanfaat pada  pengembangan  ilmu pengetahuan di bidang ilmu pada  umumnya dan Administrasi Negara pada khususnya.
  • Penelitian  ini  diharapkan dapat  memperkaya  referensi dan literatur  dalam dunia kepustakaan tentang pelaksanaan kebijakan publik.

 

2. Manfaat Praktis

  • Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan penalaran, pola pikir  dinamis dan untuk mengetahui kemampuan penulis dalam  menerapkan ilmu yang diperoleh selama bangku kuliah.
  • Penelitian ini diharapkan dapat membantu, memberikan tambahan  masukan dan pengetahuan kepada pihak-pihak terkait dengan  masalah yang sedang diteliti, juga kepada berbagai pihak yang  berminat pada permasalahan yang sama.

 

  1. E.     Metodelogi Penelitian

Dalam pembahasan ini akan dijelaskan lima aspek, yang  pertama yaitu lokasi penelitian, kedua tipe dan dasar penelitian, ketiga jenis data, keempat teknik pengumpulan data, kelima adalah teknik analisis data.

  1. a.      Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan Di Desa Meunasah Dayah. Dengan pertimbangan bahwa Desa Meunasah Dayah dikenal sebagai salah satu daerah yang mempunyai sektor pertanian yang luas sehingga  potensial untuk dijadikan lokasi penelitian. Selain itu, juga merupakan lokasi yang strategis untuk melihat kebijakan yang ada. Objek penelitian ini yaitu pemerintah yang terkait dengan pengambil kebijakan publik tentang ketahanan pangan. yang dapat menunjang hasil penelitian

 

b. Tipe dan Dasar Penelitian

Tipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tife penelitian deskriptif analitik. yaitu penelitian yang diarahkan untuk menggambarkan fakta dan argument yang tepat. Penelitaian yang dilakukan nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran kebijakan dan dampak alih fungsi lahan terhadap ketahanan pangan di Sulawesi Selatan.  

Dasar penelitian ini adalah kebijakan publik  yaitu dengan mempelajari kenyataan-kenyataan pada objek penelitian.Dengan tujuan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang objek yang akan diteliti. Sehingga penelitian yang dilakukan mengenai kebijakan pangan dalam mengatasi ketahanan pangan dapat lebih mendalam, agar dapat memperoleh gambaran yang sejelas-jelasnya tentang kebijakan yang ada.

 

c.  Jenis Data

  1. Data primer yaitu data yang diperoleh melalui studi lapangan dengan menggunakan teknik wawancara. Dalam pelaksanaan teknik ini, penulis memperoleh pendapat atau opini atau pendapat tentang kebijakan yang ada dan langkah yang ditempuh dalam menyikapi permasalahan yang ada, melalui komunikasi langsung dengan para informan.
    1. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari studi kepustakaan dengan cara membaca buku, literatur-literatur, serta informasi tertulis lainnya yang berkenaan dengan masalah yang diteliti. Selain itu terdapat situs-situs atau website yang diakses untuk memperoleh data yang lebih akurat. Data sekunder dimaksudkan sebagai data-data penunjang untuk melengkapi penelitian ini.

 

d. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang direncanakan untuk digunakan di lapangan adalah sebagai berikut :

Wawancara (interview)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan oleh pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban. Penelitian ini akan mengambil data primer dari wawancara yang dilakukan terhadap sejumlah informan. Penulis secara langsung melakukan wawancara dengan informan yang dianggap paham dan mengetahui dengan jelas masalah yang akan diteliti.

 

  1. F.      Hasil kajian

Pertanian adalah suatu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan.  Pertanian dalam arti sempit dinamakan pertanian rakyat sedangkan pertanian dalam arti luas meliputi pertanian dalam arti sempit, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Semua itu merupakan hal yang penting. Secara garis besar, pengertian pertanian dapat diringkas menjadi proses produksi, petani dan pengusaha, tanah tempat usaha, dan usaha pertanian (farm  business). Pertanian yang baik ialah pertanian yang dapat memberikan produk jauh lebih baik daripada apabila tanaman, ternak, atau ikan tersebut dibiarkan secara alami. Ilmu pertanian ialah ilmu yang mempelajari bagaimana mengelola tanaman, ternak, ikan, dan lingkungannya agar memberikan hasil semaksimal mungkin (Soetriono, Anik Suwandari, Rijanto, 2006:1-2).

Hasil penelitian yang didapatkan selama melakukan penelitian Di Desa Meunasah Dayah . Pelaksanaan Implementasi di Desa Meunasah Dayah tentu sangat menarik untuk dicermati. Mengingat Desa meunasah Dayah sebagai lahan pertanian.

Keberhasilan desa Meunasah Dayah dalam meningkatkan lahan pertanian pada dasarnya bisa diukur dari sejauh mana kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh birokrasi mampu memberikan kontribusi pada perbaikan kesejahteraan rakyat. Sektor pertanian masih mendominasi dalam mendorong perekonomian,yaiti rata-rata sebesar 45,02 persen pertahun.

 

  1. G.    Kesimpulan dan Rekomendasi

Kebijakan tentang pencegahan Implementasi Kebijakan Publik Dalam Pembangunan Pertanian tentunya bertujuan untuk menjaga kondisi ketahanan pangan di Desa meunasah Dayah dan tentunya ini harus dicegah dengan melalakukan pembangunan pertanian di tingkat petani. Selama ini prioritas utama di Desa meunasah Dayah untuk implementasi kebijakan public dalam pembangunan pertanian dengan perbaikan infrastruktur,akses petani,pembangunan pertanian

Implementasi kebijakan publik untuk menjaga ketahanan pangan dan penggunaan lahan ke non-pertanian selama ini ternyata belum efektif hal ini terjadi karena ternyata petani merasa bahwa pemerintah telah gagal untuk meyakinkan mereka karena kebijakan dianggap tidak menyentuh pada akar permasalahan, karena kebijakan yang ada ternyata tidak mampu mensejahterakan mereka sehingga masyarakat memilih untuk menjual lahannya dengan kata lain pemerintah gagal dalam melaksanakan impelementasi kebijakan yang ada.

Pelaksaanan kebijakan penggunaan lahan pertanian selain pertanian selama ini juga belum optimal karena ada intervensi kebijakan dari pemerintah sehingga kebijakan tidak berjalan optimal.

Hambatan yang timbul dalam pelaksanaan kebijakan alih fungsi lahan adalah kendalala masih kurangnya tingkat kesadaran pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan ini, selain itu tenaga sosialisasi masih sangat kurang sehingga implementasinya juga masih sangat lamban. Disisi lain koordinasi antar lembaga pemerintah juga masih sangat kurang intensif dilakukan pemerintah hal ini terjadi karena pemerintah cenderung terlena dengan lahan yang ada.

.

 

SEJARAH LAHIRNYA AGAMA HINDU DAN AMA BUDHA DI INDIA

        Perkembangan agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha. Dari tempat tersebut mulai menyebarkan agama Hindu-Budha ke tempat lain di dunia. Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (cirinya kulit putih, badan tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa melalui celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida (berhidung pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.
           Orang Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida. Oleh karena itu, Agama Hindu yang berkembang sebenarnya merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida. Selain itu, istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut agama dan kebudayaan Hindu. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Daerah perkembangan pertamanya terdapat di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya) dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).
           Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Selain itu adanya larangan bagi orang awam untuk mempelajari kitab suci. Bahkan sebelumnya kaum ksatria dan raja harus tunduk kepada Brahmana. Sidharta memandang bahwa sistem kasta dapat memecah belah masyarakat bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran.
          Oleh karena itu, Sidharta berusaha mencari jalan lain untuk mencapai moksa yang kemudian berhasil ia peroleh di Bodhgaya (tempat ia memperoleh penerangan agung). Pahamnya disebut agama Budha. Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana. Setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara. Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang mencapai tujuan. Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang menerima bodhi.

TRICK MENDOWNLOAD VIDEO YOUTUBE TANPA SOFWARE

Jika Anda online di warnet dan membuaka situs youtube dan Anda tertarik dengan salah satu video yang ada di situs tersebut dan Anda ingin mendownloadnya tapi Anda tidak menemukan tombol download pada situs tersebut. Lalu Anda mencari software khusus untuk mendownload video langsung dari youtube, namun Anda tidak menemukannya pada komputer yang terdapat pada warnet tersebut, karena memang warnet tersebut tidak menyediakan software khusus tersebut. Tapi Anda ingin sekali mendownload video tersebut. Jika begitu, Anda bisa menggunakan tips & trik untuk mendownoad video youtube tanpa perlu software tambahan.
Berikut ini adalah cara mudah untuk dapat mendownload video youtube tanpa bantuan software…
CARA PERTAMA:
  1. Buka situs www.keepvid.com, lalu copy paste-kan alamat url video youtube yang akan didownload kedalam kotak “url” dan selanjutnya klik tombol “download”.
  2. Pada jendela selanjutnya, pilih salah satu kualitas dan format video yang akan didownload.
  3. Selanjutnya, simpanlah video.
CARA KEDUA:
1. Ubah alamat url “youtube” pada video yang akan didownload menjadi “voobys” (tanpa tanda kutip).
    Contoh url pada video yang akan didownload:
    http://www.youtube.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related
    menjadi
    http://www.voobys.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related
2. Setelah jendela baru terbuka, klik tombol “download” untuk mulai mendownload video.
CARA KETIGA:
1. Tambahkan “OK” (tanpa tanda kutip) diantara url www. dan youtube.
Contoh:
    http://www.youtube.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related
    menjadi
   http://www.OKyoutube.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related
2. Dan untuk mendownload video dengan format tertentu, maka tambahkan kode berwarna hijau berikut:
    Untuk format flv:

http://www.OKyoutube.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related

    untuk format 3gp:

http://www.3.OKyoutube.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related

    untuk format mp4:

http://www.4.OKyoutube.com/watch?v=yWEIgKDOMvs&feature=related

Semoga berguna dan bermanfaat…