THAHARAH

BAB I
PENDAHULUAN
 1.1. Latar Belakang
        Shalat merupakan rukun islam yang kedua setelah manusia mengucapkan dua kalimat Syahadat, dari kelima rukun islam tersebut, yang harus dilakukan oleh manusia setiap hari adalah Shalat. Seperti yang dikatakan Rasulullah bahwa Shalat merupakan tiang agama, berarti apabila kita lalai menjalankan sholat satu kali pun, kita bisa meninggalkan ajaran agama kita, dan itu kita berarti melanggar ajaran agama. Melanggar suatu apapun itu merupakan perbuatan dosa, apalagi melanggar ajaran-ajaran agama kita. Sesibuki apapun kita, kita harus melaksanakan sholat, apabila kita meninggalkannya maka sholatnya harus di Qadha’ atau dibayar pada hari yang lainnya. Dan apabila kita melakukan suatu perjalanan yang jauh, maka sholatnya harus di Jama’, dengan sholat jama’ dapat meringankan perjalanan kita karena dilakukan dengan masing-masing dua rakaat.Thaharah merupakan miftah (alat pembuka) pintu untuk memasuki ibadah shalat. Tanpa thaharah pintu tersebut tidak akan terbuka. artinya tanpa thaharah, ibadah shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak sah.

     Dalam Al-Qur’an maupun Hadits banyak sekali penjelasan-penjelasan maupun perintah-perintah, agar umat islam senantiasa bersih dan suci. adapun dalil yang menjelaskan tentang disyariatkannya Thaharah dalam Islam adalah sebagai berikut:
            Pengertian Thaharah”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
1.2. Permasalahan
  • Thaharah
  • Makna Thaharah
  • Pembagian Thaharah
  • Definisi Hadats dan Najis
  • Berwudhu’
  • Fardhu Wudhu’
  • Sunnah Wudhu’
  • Tata Cara Wudhu’
  • Pembatal Wudhu’
  • Mandi Wajib
  • Pengertian Mandi Wajib (Al-Ghuslu)
  • Beberapa Hal yang Mewajibkan untuk Mandi (al ghuslu)
  • Rukun Mandi
  • Tata Cara Mandi yang Sempurna
  • Tayammum
  • Pengertian Tayammum
  • Alat untuk Tayammum
  • Keadaan yang  Membolehkan Tayammum
  • Tata Cara Tayammum
  • Pembatal Tayammum
1.3. Tujuan
  • Mengetahui pengertian Thaharah
  • Mengetahui Definisi Hadats dan Najis
  • Mengetahui pengertian Berwudhu’
  • Mengetahui pengertian Mandi Wajib
  • Mengetahui pengertian Rukun Mandi
  • Mengetahui pengertian Tayammum
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
2.1. Thaharah
     Sesungguhnya Islam adalah agama yang suci dan bersih. Tidak ada satupun agama yang mengatur tentang bersuci sebagaimana agama Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri/ berthaharah.” (Al-Baqarah: 222)
Di dalam kitab-kitab fiqih para ulama menempatkan pembahasan Bab Thaharah dalam bab pertama, sebelum pembahasan yang lainnya. Maka dalam rubrik ini, kami juga akan mengawali pembahasan tentang masalah Thaharah.
2.1.1. Makna Thaharah
          Thaharah menurut arti bahasa adalah pembersihan dari segala kotoran, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Adapun arti Thaharah secara syariat adalah meniadakan atau membersihkan hadats dengan air atau debu yang bisa dipakai untuk menyucikan. Selain itu bermakna juga, usaha untuk menghilangkan najis dan kotoran. Disini bisa diambil pengertian akhir bahwa Thaharah adalah melenyapkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi hambatan bagi pelaksanaan shalat dan ibadah lainnya.
2.1.2. Pembagian Thaharah
             Thaharah terbagi menjadi dua macam yaitu: Thaharah Batin dan Thaharah Lahir. Thaharah batin, yaitu Thaharah dari berbagai macam kemusyrikan dan kemaksiatan. Hal ini bisa dilakukan dengan menguatkan tauhid dan beramal shalih. Thaharah semacam ini lebih penting daripada Thaharah fisik. Sebab tidak mungkin Thaharah fisik ini akan bisa terwujud manakala masih adanya najis kemusyrikan. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk membersihkan hatinya dari najis kemusyrikan dan keragu-raguan. Yaitu dengan cara ikhlas, bertauhid dan berkeyakinan serta bertekad untuk bisa membersihkan diri dan hatinya dari kotoran-kotoran kemaksiatan, pengaruh-pengaruh iri, dengki, suap, tipu daya, sombong, ujub, riya’ dan sum’ah. Semua ini bisa dilakukan dengan cara taubat yang sebenar-benarnya dari semua dosa dan maksiat. Dan thaharah ini merupakan sebagian dari iman. Adapun sebagian yang lainnya adalah thaharah fisik atau lahir. Thaharah fisik, yaitu bersuci dari kotoran-kotoran dan najis-najis, dan thaharah ini adalah separuh keimanan yang kedua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersuci itu separuh dari keimanan.”
Thaharah macam kedua ini dilakukan menurut tata cara yang telah disyariatkan oleh Allah yaitu dengan cara berwudhu’, mandi atau tayamum (ketika sedang tidak ada air), serta membersihkan najis dari pakaian, badan, dan tempat shalat.
Thaharah ini bisa dilakukan dengan dua hal:
Pertama: Thaharah dengan cara menggunakan air, dan inilah cara Thaharah yang paling pokok. Oleh sebab itu, setiap air yang turun dari langit atau keluar dari perut bumi adalah air yang menempati asal penciptaannya. Maka hukum air tersebut adalah suci dan menyucikan dari segala hadats dan kotoran meskipun sudah mengalami perubahan rasa atau warna atau baunya oleh sebab sesuatu yang bersih.
Kedua: Thaharah dengan memakai debu yang suci. Thaharah ini merupakan ganti dari thaharah dengan air oleh sebab tidak memungkinkan bersuci dengan menggunakan air pada bagian-bagian yang harus disucikan atau karena tidak adanya air, atau karena takut bahaya yang ditimbulkan jika menggunakan air sehingga bisa digantikan dengan debu yang suci.
2.2. Definisi Hadats dan Najis
  • Hadats adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak sah melakukan ibadah tertentu seperti shalat; dapat dibedakan menjadi dua:
  1. Hadats Kecil: segala sesuatu yang membatalkan wudhu’, seperti kentut, kencing, buang air besar, dll.
  2. Hadats Besar: sesuatu yang menyebabkan mandi besar, seperti mimpi basah, bersetubuh, haidh, dan nifas.
  • Najis adalah sesuatu yang datang dari dalam diri (tubuh) manusia ataupun dari luar manusia, yang dapat menyebabkan tidak sahnya badan, pakaian, atau tempat untuk dipakai beribadah; dapat dibedakan menjadi tiga:
    1. Najis Mukhaffafah (najis ringan): misalnya air kecing bayi yang belum berumur 2 tahun dan belum makan apa pun selain air susu ibu.
    2. Najis Mutawasithah (najis sedang):
      1. Hukmiyah: benda suci yang terkena benda najis dan masih bisa disucikan (dengan air, dll.).
      2. Ainiyah: benda yang pada asalnya dihukumi najis dan tidak bisa disucikan.
    3. Najis Mughalladhoh (najis berat): misalnya air liur/air kencingnya anjing atau babi, dan atau keturunanya.
Pembahasan dalam makalah ini akan memfokuskan pada jenis thaharah fisik, yang meliputi wudhu’, mandi wajib (al-ghuslu), dan tayammum.
2.3. Berwudhu’
         Secara bahasa wudhu’ berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan. Wudhu’ untuk sholat dikatakan sebagai wudhu’ karena ia membersihkan anggota wudhu’ dan memperindahnya. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari’at, wudhu’ adalah peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menggunakan air yang suci dan mensucikan dengan cara yang tertentu di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki.
Adapun sebab yang mewajibkan wudhu’ adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu’ atau mandi. Hadats terbagi menjadi dua macam: hadats besar, yaitu segala yang mewajibkan mandi; dan hadats kecil, yaitu semua yang mewajibkan wudhu’.
2.3.1. Fardhu Wudhu’
Fardhu (rukun) wudhu’ ada 6 (enam), yaitu :
  1. Membasuh muka (termasuk berkumur dan memasukkan dan mengeluarkan air ke dan dari hidung)
  2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku,
  3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala
  4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki,
  5. Tertib (berurutan),
  6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain).
2.3.2. Sunnah Wudhu’
Yang termasuk sunnah-sunnah wudhu’ adalah :
  1. Bersiwak sebelum berwudhu’
  2. Membasuh dua telapak tangan sebanyak tiga kali
  3. Bersungguh-sungguh dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali bagi yang berpuasa
  4. Mendahulukan anggota wudhu’ yang kanan
  5. Mengulangi setiap basuhan dua kali atau tiga kali
  6. Menyela-nyela antara jari-jemari (tangan dan kaki)
  7. Menyela-nyela jenggot yang lebat.
  8. Menyempurnakan wudhu’
 2.3.3. Tata Cara Wudhu’
  1. Niat berwudhu’ (dalam hati) untuk menghilangkan hadats
  2. Membaca basmallah
  3. Membasuh dua telapak sebanyak tiga kali
  4. Berkumur sebanyak tiga kali, menghirup air ke hidung (Istinsyaq) sebanyak tiga kali, dan menyemprotkan air (istin-tsar) dari hidung ke sebelah kiri
  5. Membasuh muka sebanyak tiga kali.
  6. Membasuh dua tangan beserta siku sebanyak tiga kali.
  7. Menyapu seluruh kepala berikut dua telinga sebanyak satu kali sapuan dengan air yang baru dan bukan air dari sisa basuhan tangan.
  8. Membasuh dua kaki beserta dua mata kaki sebanyak tiga kali.
Setelah selesai berwudhu’ dengan cara-cara tadi, maka arahkanlah pandangan ke langit (atas) dan ucapkanlah doa.
2.3.4. Pembatal Wudhu’
  • Pembatal pertama: Kencing, buang air besar, dan kentut
  • Pembatal kedua: Keluarnya mani, wadi, dan madzi
  • Pembatal ketiga: Tidur lelap (dalam keadaan tidak sadar)
  • Pembatal keempat: Hilangnya akal karena mabuk, pingsan dan gila. Ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama). Hilang kesadaran pada kondisi semacam ini tentu lebih parah dari tidur.
  • Pembatal kelima: Memakan daging unta.
2.4. Mandi Wajib
2.4.1. Pengertian Mandi Wajib (Al-Ghuslu)
            Yang dimaksud dengan al ghuslu secara bahasa adalah mengalirkan air pada sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan al ghuslu secara syari’at adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus untuk menghilangkan hadats besar.
2.4.2. Beberapa Hal yang Mewajibkan untuk Mandi (al ghuslu)
  • Pertama: Keluarnya mani dengan syahwat (junub).
  • Kedua: Bertemunya dua kemaluan (laki-laki dan perempuan), walaupun tidak keluar mani.
  • Ketiga: Ketika berhentinya darah haidh dan nifas.
  • Keempat: Ketika orang kafir masuk Islam.
  • Kelima: Karena kematian.
2.5. Rukun Mandi
  1. Niat mandi (dalam hati) untuk menghilangkan hadats besar.
  2. Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.
Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.
2.5.1. Tata Cara Mandi yang Sempurna
            Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna.
  • Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
  • Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
  • Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.
  • Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
  • Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
  • Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.
  • Ketujuh: Menyela-nyela rambut.
  • Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.
    • Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
2.6. Tayammum
2.6.1. Pengertian Tayammum
          Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud. Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih. Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum, baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak.
2.6.2. Alat untuk Tayammum
         Media (alat) yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih, baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering.
Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits dari Hudzaifah ibnul Yaman, Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ash Shon’ani rohimahullah, Penyebutan sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan. Hal ini merupakan pendapat Al Auzaa’i, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah.
 
2.6.3. Keadaan yang  Membolehkan Tayammum
        Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,
  • Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak.
  • Terdapat air (dalam jumlah terbatas pent.) bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.
  • Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.
  • Ketidakmampuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
  • Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.
 
2.6.4. Tata Cara Tayammum
  • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan, kemudian meniupnya.
  • Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
  • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
  • Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
  • Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja, atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu.
  • Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.
  • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah (junub), demikian juga untuk hadats kecil.
 
2.6.5. Pembatal Tayammum
Pembatal tayammum adalah sebagaimana pembatal wudhu. Demikian juga tayammum tidak dibolehkan lagi apabila dalam kondisi berikut:
  • Telah ditemukan air bagi orang yang bertayammum karena ketidakadaan air,
  • Telah adanya kemampuan menggunakan air,
  • Tidak sakit lagi  bagi orang yang bertayammum karena ketidakmampuan menggunakan air.
Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya yang telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya.
 
BAB III
PENUTUP
 3.1. Kesimpulan
Thaharah menurut arti bahasa adalah pembersihan dari segala kotoran, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Adapun arti Thaharah secara syariat adalah meniadakan atau membersihkan hadats dengan air atau debu yang bisa dipakai untuk menyucikan. Selain itu bermakna juga, usaha untuk menghilangkan najis dan kotoran. Disini bisa diambil pengertian akhir bahwa Thaharah adalah melenyapkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi hambatan bagi pelaksanaan shalat dan ibadah lainnya.
3.2. Saran
Thaharah merupakan miftah (alat pembuka) pintu untuk memasuki ibadah shalat. Tanpa thaharah pintu tersebut tidak akan terbuka. artinya tanpa thaharah, ibadah shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak sah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s